
JAKARTA – Kegagalan Timnas Indonesia di fase grup Piala AFF 2026 ternyata tidak langsung berujung pada pergantian pelatih. John Herdman justru mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan sejumlah pendahulunya yang mengalami nasib serupa.
Garuda hanya mampu finis di posisi ketiga Grup A dengan enam poin, sehingga gagal melaju ke semifinal. Hasil tersebut tentu mengecewakan karena Indonesia sebelumnya memasang target tinggi di turnamen Asia Tenggara tersebut.
Namun, di tengah kekecewaan tersebut, PSSI memilih melakukan evaluasi dan belum mencopot Herdman dari kursi pelatih.
Keputusan ini menarik perhatian karena dalam beberapa edisi sebelumnya, kegagalan Indonesia melewati fase grup hampir selalu diikuti perubahan di posisi pelatih.
Herdman Memutus Rekor Pergantian Pelatih
Nama John Herdman kini menjadi bagian dari sejarah Timnas Indonesia.
Sebelumnya, setiap kali Indonesia gagal melewati fase grup Piala AFF, pelatih yang menangani skuad Garuda selalu mengalami pergantian atau tidak melanjutkan masa tugasnya.
Namun, pola tersebut berhenti pada edisi 2026.
Herdman menjadi pelatih pertama dalam rangkaian kegagalan fase grup tersebut yang tidak langsung kehilangan pekerjaannya. PSSI memilih mengevaluasi kinerja secara menyeluruh.
Keputusan tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan besar:
Mengapa Herdman mendapatkan kepercayaan yang berbeda?
1. Peter Withe: Gagal di Piala AFF 2007
Salah satu nama yang masuk dalam catatan sejarah tersebut adalah Peter Withe.
Pada Piala AFF 2007, Indonesia gagal melaju ke semifinal setelah fase grup. Setelah turnamen tersebut, masa kerja Withe bersama Timnas Indonesia tidak berlanjut.
Kegagalan itu menjadi salah satu contoh bagaimana hasil di Piala AFF pada masa lalu sangat memengaruhi posisi pelatih.
2. Nil Maizar: Terdepak Setelah Piala AFF 2012
Lima tahun kemudian, Nil Maizar juga mengalami nasib serupa.
Indonesia gagal lolos dari fase grup Piala AFF 2012. Situasi sepak bola nasional ketika itu juga tidak ideal karena adanya dualisme kompetisi dan konflik internal.
Nil akhirnya tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Kisah Nil menunjukkan bahwa hasil buruk di turnamen besar bisa menjadi sangat menentukan ketika dibarengi situasi internal yang rumit.
3. Alfred Riedl: Pelatih Berpengalaman yang Ikut Jadi Korban
Nama Alfred Riedl tentu tidak asing bagi pencinta sepak bola Indonesia.
Pelatih asal Austria tersebut memiliki pengalaman panjang bersama Timnas Indonesia dan bahkan pernah membawa Garuda ke final Piala AFF.
Namun, pada Piala AFF 2014, Indonesia tersingkir di fase grup.
Riedl kemudian dicopot setelah target yang ditetapkan tidak tercapai.
Ironisnya, Riedl kemudian kembali membuktikan kualitasnya dengan membawa Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2016.
Artinya, kegagalan di satu turnamen tidak selalu menggambarkan kemampuan seorang pelatih secara keseluruhan.
4. Bima Sakti: Gagal di AFF 2018
Pada Piala AFF 2018, giliran Bima Sakti yang menghadapi tekanan besar.
Bima ditunjuk menangani Timnas senior setelah Luis Milla tidak melanjutkan pekerjaannya.
Indonesia gagal lolos dari fase grup dengan catatan hanya satu kemenangan dari empat pertandingan.
Setelah turnamen tersebut, Bima tidak lagi menangani Timnas senior.
Namun, perjalanan kariernya kemudian berlanjut di level usia muda dan menghasilkan prestasi penting.
Kisah Bima kembali memperlihatkan bahwa kegagalan di level senior tidak otomatis menghapus kemampuan seorang pelatih.
5. Shin Tae-yong: Akhir Era Setelah AFF 2024
Nama terakhir sebelum Herdman adalah Shin Tae-yong.
Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2024 setelah hanya mampu finis di fase grup.
Meski Shin memiliki sejumlah pencapaian penting bersama Timnas Indonesia, termasuk membawa tim berkembang di level Asia, kegagalan di AFF menjadi salah satu bagian dari evaluasi yang kemudian berujung pada berakhirnya masa kepelatihannya pada Januari 2025.
Perbandingan inilah yang membuat keputusan PSSI terhadap Herdman menjadi semakin menarik.
Herdman Justru Mendapat Kesempatan Melanjutkan Proyek
Berbeda dari para pendahulunya, Herdman belum mendapatkan keputusan pemecatan.
PSSI melalui jajaran pengurus menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap performa Timnas Indonesia, tetapi posisi Herdman masih aman.
Ada alasan lain yang membuat situasi Herdman berbeda.
Pelatih asal Inggris tersebut memiliki visi jangka panjang bersama Timnas Indonesia, termasuk target untuk membangun skuad yang dapat bersaing menuju Piala Dunia 2030.
Dengan demikian, PSSI tampaknya tidak ingin menentukan masa depan pelatih hanya berdasarkan satu turnamen.
Hasil Piala AFF 2026 Memang Mengecewakan
Indonesia mengakhiri perjalanan di Grup A dengan enam poin.
Garuda sempat mencatat kemenangan penting atas Vietnam dengan skor 3-0, selain meraih kemenangan atas Timor Leste dan Kamboja.
Namun, hasil imbang 1-1 melawan Singapura pada pertandingan terakhir membuat Indonesia gagal mengejar posisi dua besar.
Hasil tersebut membuat Vietnam dan Singapura melangkah ke semifinal, sementara Indonesia harus mengakhiri turnamen lebih cepat.
Mengapa PSSI Tidak Langsung Memecat Herdman?
Ada beberapa kemungkinan alasan yang membuat pendekatan terhadap Herdman berbeda.
Pertama, kontrak dan proyek jangka panjang
Herdman masih memiliki agenda besar bersama Timnas Indonesia. Pergantian pelatih secara mendadak berpotensi mengganggu kesinambungan program.
Kedua, evaluasi tidak hanya berdasarkan satu turnamen
PSSI tampaknya ingin melihat performa secara lebih menyeluruh, bukan hanya hasil Piala AFF.
Ketiga, waktu menuju agenda berikutnya cukup singkat
Indonesia akan menghadapi agenda internasional lainnya setelah Piala AFF. Pergantian pelatih dalam waktu cepat tentu membutuhkan adaptasi kembali.
Tetap Ada Tekanan Besar untuk Herdman
Meski posisinya aman, bukan berarti Herdman bebas dari tekanan.
Justru sebaliknya.
Kegagalan di Piala AFF 2026 akan menjadi bahan evaluasi serius.
Pelatih asal Inggris tersebut harus menunjukkan bahwa hasil buruk tersebut merupakan bagian dari proses, bukan indikasi bahwa strateginya tidak berjalan.
Jika performa Indonesia kembali mengecewakan pada pertandingan-pertandingan berikutnya, tekanan terhadap Herdman tentu bisa meningkat.
Kepercayaan PSSI bukan cek kosong.
Tantangan Terbesar: Membuktikan Kepercayaan
Herdman sebenarnya sudah mendapatkan kesempatan membangun skuad.
Sebelum Piala AFF, ia juga sempat memimpin pemusatan latihan dan mendapatkan respons positif dari pemain mengenai intensitas latihan.
Namun pertandingan resmi adalah ujian sesungguhnya.
Pemain harus mampu menerjemahkan strategi pelatih ketika menghadapi tekanan kompetitif.
Kemenangan 3-0 atas Vietnam menunjukkan bahwa potensi itu ada.
Persoalannya adalah konsistensi.
Herdman Harus Segera Menjawab Kritik
Kegagalan di fase grup tentu akan memunculkan berbagai pertanyaan.
Apakah strategi Herdman sudah tepat?
Apakah komposisi pemain sudah ideal?
Mengapa Indonesia kehilangan poin penting?
Apakah pemain muda sudah mendapatkan kesempatan yang cukup?
Dan yang paling penting:
Apakah Herdman benar-benar pelatih yang tepat untuk proyek jangka panjang Timnas Indonesia?
Semua pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui performa di pertandingan berikutnya.
Era Baru dalam Cara PSSI Mengevaluasi Pelatih?
Keputusan mempertahankan Herdman juga dapat menjadi sinyal bahwa PSSI mulai mengubah pendekatan.
Jika sebelumnya hasil satu turnamen bisa langsung menentukan nasib pelatih, kini evaluasi tampaknya ingin dilakukan secara lebih komprehensif.
Ini bisa menjadi langkah positif jika benar-benar diterapkan secara konsisten.
Pelatih membutuhkan waktu untuk membangun sistem.
Pemain juga membutuhkan waktu untuk memahami filosofi permainan.
Namun, proyek jangka panjang tetap harus dibarengi target yang jelas.
Herdman Kini Memiliki Satu Tugas Besar
Tidak dipecat tentu menjadi kabar baik bagi Herdman.
Tetapi setelah itu muncul pekerjaan yang jauh lebih sulit:
membuktikan bahwa PSSI tidak salah mempertahankannya.
Ia harus memperbaiki konsistensi permainan, meningkatkan efektivitas serangan, memperkuat mental pemain, serta memastikan kesalahan yang terjadi di Piala AFF tidak terulang.
Jika berhasil, kegagalan di AFF 2026 bisa berubah menjadi pelajaran penting.
Jika gagal, keputusan PSSI mempertahankan Herdman akan kembali dipertanyakan.
Kesimpulan
John Herdman mencatat cerita berbeda dalam sejarah Timnas Indonesia.
Peter Withe, Nil Maizar, Alfred Riedl, Bima Sakti, dan Shin Tae-yong sama-sama mengalami masa sulit setelah Indonesia gagal melewati fase grup Piala AFF pada edisi masing-masing. Herdman kini menjadi pengecualian karena PSSI memilih melakukan evaluasi tanpa langsung mencopotnya.
Indonesia sendiri tersingkir dari Piala AFF 2026 setelah finis ketiga Grup A dengan enam poin.
































































































