
JAKARTA – Nama Tijjani Reijnders kembali menjadi pusat perhatian dalam bursa transfer musim panas 2026. Gelandang Timnas Belanda tersebut dikabarkan segera meninggalkan Manchester City dan melanjutkan kariernya di Arab Saudi bersama Al-Qadsiah.
Yang membuat kabar ini semakin menghebohkan bukan hanya nilai transfernya, tetapi juga paket gaji yang sangat besar. Laporan media menyebut Reijnders berpotensi memperoleh lebih dari €100 juta selama lima musim jika seluruh periode kontraknya dijalani.
Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp19.000 per euro, nilainya bisa mencapai lebih dari Rp1,9 triliun, atau mendekati Rp2 triliun.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan laporan media, bukan angka resmi yang telah diumumkan klub.
Reijnders Tinggalkan Manchester City Setelah Satu Musim
Kepindahan ini cukup mengejutkan karena Reijnders baru bergabung dengan Manchester City dari AC Milan pada musim panas 2025.
Selama musim pertamanya di Inggris, pemain berusia 28 tahun tersebut mencatat puluhan penampilan dan ikut membantu City meraih Piala Liga Inggris serta Piala FA. The National melaporkan Reijnders tampil 47 kali dan mencetak tujuh gol pada musim tersebut.
Namun, situasinya berubah setelah pergantian pelatih dan restrukturisasi lini tengah Manchester City.
Reijnders akhirnya berada di ambang pintu keluar.
Al-Qadsiah Siapkan Tawaran Fantastis
Klub Arab Saudi, Al-Qadsiah, disebut telah mencapai kesepakatan dengan Manchester City untuk transfer Reijnders.
Nilai transfer yang dilaporkan berada di kisaran £52 juta.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp1,1 triliun jika menggunakan asumsi kurs £1 sekitar Rp21.500.
Artinya, Al-Qadsiah bukan hanya memberikan kontrak menggiurkan kepada sang pemain, tetapi juga harus mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan tanda tangannya.
Laporan terbaru menyebut proses kepindahan masih menunggu tahapan akhir, termasuk pemeriksaan medis.
Gaji Rp2 Triliun Jadi Perhatian
Bagian paling menarik dari transfer ini adalah paket finansial untuk Reijnders.
Menurut laporan yang mengutip informasi dari media Belanda De Telegraaf, Reijnders diperkirakan bisa memperoleh lebih dari €100 juta selama lima tahun apabila seluruh opsi kontraknya terealisasi.
Namun, struktur kontraknya disebut terdiri dari empat tahun yang dijamin dengan opsi satu tahun tambahan.
Artinya, angka €100 juta tersebut bukan berarti semuanya sudah pasti diterima sejak awal.
Laporan yang sama menyebut kontrak empat tahun saja dapat menjamin pendapatan sekitar €80 juta, sedangkan jika opsi tahun kelima digunakan, totalnya dapat melampaui €100 juta.
Dengan demikian, istilah “Rp2 triliun” lebih tepat dipahami sebagai estimasi total pendapatan selama periode maksimal lima tahun, bukan gaji tunai yang langsung diterima Reijnders.
Jika Dihitung Per Tahun, Angkanya Tetap Fantastis
Jika menggunakan angka €100 juta selama lima tahun, rata-ratanya sekitar:
€20 juta per tahun.
Dengan asumsi kurs Rp19.000 per euro:
€20 juta ≈ Rp380 miliar per tahun.
Jika dibagi menjadi 12 bulan:
sekitar Rp31,7 miliar per bulan.
Tentu, perhitungan tersebut hanyalah ilustrasi berdasarkan nilai kontrak yang diberitakan dan belum memperhitungkan struktur bonus, pajak, maupun komponen kontrak lainnya.
Tetapi satu hal jelas: Arab Saudi menawarkan peningkatan finansial yang sangat besar bagi Reijnders.
Mengapa Reijnders Memilih Arab Saudi?
Pilihan tersebut menarik karena Reijnders sebenarnya masih berada pada usia produktif.
Ia baru berusia 28 tahun dan masih memiliki peluang untuk bermain di level tertinggi Eropa.
Namun, sepak bola Arab Saudi kini semakin mampu menawarkan kombinasi yang sulit ditolak:
gaji tinggi + kontrak jangka panjang + peran penting di klub.
Al-Qadsiah juga sedang membangun ambisi besar.
Klub tersebut finis di posisi keempat Saudi Pro League musim lalu dan bersiap tampil di AFC Champions League Elite untuk pertama kalinya dalam sejarahnya.
Reijnders berpotensi menjadi salah satu pemain penting dalam proyek tersebut.
Brendan Rodgers Menunggu Sang Gelandang
Al-Qadsiah saat ini ditangani oleh Brendan Rodgers, pelatih yang memiliki pengalaman panjang di sepak bola Inggris.
Kehadiran Rodgers dapat menjadi faktor menarik bagi Reijnders.
Gelandang asal Belanda tersebut tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan sepak bola Eropa sepenuhnya karena pelatihnya memiliki pengalaman melatih klub-klub Inggris dan memahami karakter sepak bola Premier League.
Reijnders pun diharapkan dapat langsung memainkan peran penting dalam sistem Al-Qadsiah.
Perjalanan Karier Reijnders yang Menanjak
Kisah Reijnders sebenarnya cukup menarik.
Ia mengawali perjalanan profesional di Belanda sebelum berkembang bersama AZ Alkmaar.
Namanya kemudian semakin dikenal setelah pindah ke AC Milan pada 2023.
Di Italia, Reijnders berkembang menjadi gelandang yang memiliki kemampuan membawa bola, melakukan progresi, sekaligus mencetak gol.
Performa tersebut membuat Manchester City tertarik membawanya ke Premier League pada 2025.
Kini, hanya satu tahun setelah tiba di Inggris, Reijnders berpotensi kembali pindah negara.
Dari Milan, Manchester, Kini Arab Saudi
Jika transfer tersebut resmi, perjalanan klub Reijnders dalam beberapa tahun terakhir akan terlihat sangat cepat:
AZ Alkmaar → AC Milan → Manchester City → Al-Qadsiah.
Perpindahan tersebut juga menunjukkan bagaimana karier seorang pemain dapat berubah sangat cepat di era sepak bola modern.
Dari Serie A ke Premier League, kemudian menuju Saudi Pro League dengan kontrak bernilai fantastis.
City Juga Mendapat Keuntungan Besar
Manchester City juga mempunyai alasan ekonomi untuk melepas Reijnders.
City hanya mendatangkannya dari AC Milan setahun sebelumnya, tetapi kini dikabarkan dapat menjualnya dengan nilai sekitar £52 juta.
Penjualan tersebut memberikan ruang bagi klub untuk melakukan perombakan lini tengah.
Manchester City juga tengah aktif di pasar transfer.
Klub telah mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest dengan nilai transfer sekitar £116 juta dan dikabarkan masih mengejar sejumlah pemain lainnya.
Dengan demikian, kepergian Reijnders menjadi bagian dari perubahan besar di lini tengah City.
Arab Saudi Terus Menarik Pemain Top
Kepindahan Reijnders juga memperlihatkan bahwa proyek sepak bola Arab Saudi belum berhenti.
Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi Pro League berhasil menarik sejumlah pemain terkenal dunia.
Kini, pemain yang masih berada di usia produktif seperti Reijnders juga mulai menjadi sasaran.
Ini berbeda dengan anggapan awal bahwa liga Arab Saudi hanya menjadi tujuan pemain yang sudah memasuki penghujung karier.
Al-Qadsiah bahkan menunjukkan ambisi besar dengan membangun skuad yang mampu bersaing di level domestik dan Asia.
Bukan Sekadar Soal Uang
Meski gaji menjadi sorotan terbesar, Reijnders tentu juga membutuhkan tantangan olahraga.
Al-Qadsiah memiliki target kompetitif dan akan bermain di kompetisi Asia.
Jika mampu menjadi pemain kunci, Reijnders berpeluang mendapatkan peran yang lebih besar dibandingkan ketika berada di Manchester City.
Di Manchester, persaingan lini tengah sangat ketat.
Di Arab Saudi, ia berpotensi menjadi salah satu pusat permainan klub.
Tantangan Baru di Saudi Pro League
Namun, kepindahan ke Arab Saudi juga membawa tantangan.
Reijnders harus beradaptasi dengan:
- iklim yang jauh lebih panas;
- kultur sepak bola berbeda;
- gaya permainan berbeda;
- kehidupan di lingkungan baru;
- tekanan sebagai pemain dengan bayaran tinggi.
Status sebagai pemain mahal membuat ekspektasi terhadapnya otomatis meningkat.
Setiap penampilan akan mendapatkan perhatian besar.
Reijnders dan Harapan Fans Indonesia
Nama Tijjani Reijnders juga memiliki daya tarik tersendiri bagi publik Indonesia karena latar belakang keluarganya.
Reijnders diketahui memiliki darah Indonesia dari garis keluarganya dan pernah berbicara mengenai kebanggaannya terhadap latar belakang tersebut.
Namun, dalam sepak bola internasional ia memilih memperkuat Timnas Belanda.
Kini, perjalanan kariernya di Arab Saudi tentu akan tetap menjadi perhatian penggemar sepak bola Indonesia.
Transfer Ini Bisa Mengubah Peta Kariernya
Pindah ke Al-Qadsiah pada usia 28 tahun merupakan keputusan besar.
Jika berhasil, Reijnders bisa menjadi salah satu pemain asing terpenting di Saudi Pro League.
Ia juga berpeluang menjadi bagian dari proyek Al-Qadsiah untuk menantang klub-klub besar seperti Al-Hilal, Al-Nassr, Al-Ittihad, dan Al-Ahli.
Namun, jika performanya tidak sesuai ekspektasi, kontrak besar tersebut justru bisa menjadi tekanan tersendiri.
Rp2 Triliun dan Babak Baru Tijjani Reijnders
Kepindahan Tijjani Reijnders ke Al-Qadsiah menjadi salah satu transfer menarik musim panas 2026.
Manchester City dikabarkan menerima sekitar £52 juta, sementara Reijnders disebut berpeluang memperoleh lebih dari €100 juta selama maksimal lima tahun.
Dengan asumsi kurs sekitar Rp19.000 per euro, total pendapatan tersebut berada di kisaran Rp1,9 triliun, sehingga wajar jika muncul pemberitaan mengenai “gaji Rp2 triliun”.
Tetapi angka itu perlu dibaca secara hati-hati: €100 juta adalah estimasi total pendapatan kontrak lima tahun, bukan gaji tahunan dan bukan pula uang yang langsung masuk ke rekening pemain.
Yang pasti, kepindahan ini menunjukkan satu hal penting:
Saudi Pro League kini bukan hanya tempat bagi legenda sepak bola yang mendekati akhir karier. Pemain berusia 28 tahun seperti Reijnders pun mulai melihat Arab Saudi sebagai destinasi yang menawarkan kombinasi uang, peran besar, dan ambisi kompetitif.
Dan bagi Reijnders, perjalanan dari Milan, Manchester hingga Arab Saudi kini memasuki babak yang mungkin menjadi salah satu keputusan terbesar dalam kariernya.
































































































