mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong mahjong gila4d vertu789 karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto slot gacor karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto karatetoto kaskus288 sarang288 sarang288 sarang288 sarang288 sarang288 ayamtoto slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot88 slot gacor slot gacor slot gacor ketua288 slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor slot gacor
Pemerintah Prancis Bela Zidane soal Agama yang Dianutnya, Polemik Makin Panas Setelah Jadi Pelatih Les Bleus - KALIMANTAN TENGAH

KALIMANTAN TENGAH

Informasi & Berita Seputar Kalimantan Tengah

Pemerintah Prancis Bela Zidane soal Agama yang Dianutnya, Polemik Makin Panas Setelah Jadi Pelatih Les Bleus

https://images.openai.com/static-rsc-4/q8sTG_ExeWdVSIhh6JB1bjdzbUpqEnu8vvXQ1znPg00xx0RUZPcs3aBgHZOVUinu10sEwfooNSCX2W0iguv0tuhxEB1Tteeue4QVXku5yQzDZL3QuXKNQnv19IEmnc64eRggNsOxnXnPOblGddOuuGUSOFVzCzPRjSU-7cDa4rnFhas8gYCTciFlqw0ro3cv?purpose=fullsize

https://pictures.tribuna.com/image/89084939-839c-4535-a0c2-d438c1b2adca?quality=70&width=1920

https://images.rtl.fr/~c/2000v2000/rtl/www/1727104-zinedine-zidane.jpeg

PARIS – Penunjukan Zinedine Zidane sebagai pelatih baru Timnas Prancis ternyata tidak hanya memunculkan antusiasme di dunia sepak bola. Setelah resmi menjadi nakhoda Les Bleus, kehidupan pribadi dan latar belakang agama legenda Real Madrid itu ikut disorot sejumlah media Prancis.

Pemberitaan mengenai agama Zidane kemudian memicu perdebatan politik dan sosial. Sejumlah pihak menilai kehidupan beragama seseorang seharusnya tidak dijadikan ukuran untuk menilai kelayakannya memimpin tim nasional, sementara prinsip laïcité atau sekularisme Prancis kembali menjadi bahan perdebatan.

Dalam konteks ini, penting dicatat bahwa negara Prancis secara konstitusional bersikap netral terhadap agama, bukan memberikan perlakuan khusus kepada agama tertentu. Pemerintah Prancis justru menegaskan prinsip kebebasan hati nurani dan kebebasan menjalankan agama selama sesuai dengan ketertiban umum.

Agama Zidane Kembali Jadi Sorotan

Zidane dikenal sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya, termasuk soal agama.

Ia memang pernah berbicara mengenai keyakinannya dalam wawancara masa lalu. Dalam wawancara yang dikutip sejumlah media, Zidane menyebut dirinya sebagai Muslim nonpraktik dan memilih tidak menjadikan keyakinan agama sebagai bagian besar dari citra publiknya.

Sikap tertutup tersebut sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun, setelah Zidane resmi mengambil alih Timnas Prancis pada Juli 2026, sejumlah media kembali mengangkat persoalan tersebut. Salah satu laporan bahkan menyoroti secara khusus agama dan kehidupan pribadi Zidane, sehingga memicu reaksi keras di ruang publik.

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi soal prestasinya sebagai pemain atau pelatih.

Melainkan:

Apakah agama seseorang masih pantas dijadikan bahan perdebatan ketika ia dipercaya memimpin tim nasional?

Zidane Bukan Pendatang Baru dalam Sejarah Prancis

Bagi masyarakat Prancis, Zidane bukan sekadar mantan pesepak bola.

Ia merupakan salah satu simbol terbesar keberhasilan sepak bola Prancis.

Pada 1998, Zidane menjadi tokoh sentral ketika Prancis memenangkan Piala Dunia untuk pertama kalinya. Ia kembali membawa Les Bleus ke final Piala Dunia 2006 dan kemudian sukses sebagai pelatih Real Madrid dengan tiga gelar Liga Champions.

Karena itu, ketika ia kembali ke tim nasional, banyak masyarakat melihat Zidane terutama sebagai bagian dari sejarah sepak bola Prancis.

Identitas keluarga, agama, dan latar belakang keturunan tidak menghapus fakta bahwa ia telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam perjalanan olahraga negara tersebut.

Negara Prancis Tidak Boleh Menilai Warga Berdasarkan Agama

Di sinilah prinsip laïcité menjadi penting.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, prinsip sekularisme menjamin kebebasan hati nurani serta kebebasan menjalankan keyakinan, sekaligus mengharuskan negara dan layanan publik bersikap netral terhadap agama.

Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak seharusnya menentukan apakah seorang warga memiliki agama tertentu atau tidak.

Negara juga tidak boleh memberikan perlakuan berbeda hanya berdasarkan keyakinan seseorang.

Karena itu, persoalan agama Zidane lebih tepat ditempatkan sebagai ranah kehidupan pribadi.

Yang menjadi tanggung jawab negara adalah memastikan semua warga memiliki hak yang sama, bukan menentukan agama mana yang boleh atau tidak boleh dianut.

Polemik Media Memicu Reaksi

Pemberitaan mengenai agama Zidane muncul tidak lama setelah pengumuman dirinya sebagai pelatih baru Prancis.

Al Jazeera melaporkan adanya kemarahan di kalangan politik dan publik setelah sebuah laporan media membahas agama dan kehidupan pribadi Zidane. Sejumlah pihak menilai sorotan tersebut tidak relevan dengan kompetensi Zidane sebagai pelatih.

Perdebatan tersebut menjadi semakin sensitif karena Prancis memiliki sejarah panjang mengenai hubungan antara agama, identitas, imigrasi, dan sekularisme.

Zidane sendiri merupakan putra keluarga keturunan Aljazair yang lahir dan tumbuh di Marseille.

Kisah hidupnya kerap dipandang sebagai contoh integrasi masyarakat keturunan imigran ke dalam masyarakat Prancis. Le Monde menyebut perjalanan Zidane sebagai gambaran identitas berlapis: Prancis berdasarkan kelahiran dan kewarganegaraan, memiliki akar keluarga Aljazair, serta pernah menggambarkan dirinya sebagai Muslim nonpraktik.

Mengapa Isu Ini Sensitif?

Prancis memiliki konsep sekularisme yang sangat kuat.

Negara secara resmi tidak menganut agama tertentu dan institusi publik harus bersikap netral. Tetapi pada saat yang sama, warga tetap memiliki kebebasan untuk mempunyai keyakinan agama dan menjalankannya sesuai hukum.

Persoalannya muncul ketika identitas keagamaan seseorang menjadi bahan penilaian terhadap kapasitas profesionalnya.

Dalam kasus Zidane, publik dapat memperdebatkan strategi, prestasi, gaya kepemimpinan, bahkan keputusan taktiknya.

Namun, mempertanyakan kelayakannya hanya karena agama yang dianutnya merupakan persoalan yang berbeda.

Sepak bola seharusnya menilai seorang pelatih berdasarkan kompetensi dan hasil kerja, bukan keyakinan pribadinya.

Zidane Memilih Tidak Menjadikan Agama sebagai Citra Publik

Salah satu karakter Zidane selama puluhan tahun adalah sikapnya yang sangat tertutup.

Ia tidak dikenal sebagai tokoh yang sering menjadikan agama sebagai bagian dari aktivitas media.

Bahkan ketika masih menjadi pemain, Zidane relatif jarang membahas Islam secara terbuka dibandingkan beberapa pesepak bola Muslim lainnya. Sikap tersebut konsisten dengan pandangannya bahwa keyakinan merupakan persoalan pribadi.

Sikap inilah yang membuat pemberitaan mengenai agama Zidane setelah pengangkatannya sebagai pelatih Prancis terasa semakin mencolok.

Zidane tidak tiba-tiba mengubah pendiriannya.

Yang berubah adalah tingkat sorotan publik terhadap dirinya.

Jabatan Pelatih Membuat Semua Hal Disorot

Ketika Zidane masih menjadi pemain, sorotan terbesar diarahkan kepada kemampuannya di lapangan.

Sebagai pelatih tim nasional, situasinya berbeda.

Setiap ucapan akan dianalisis.

Setiap keputusan akan menjadi bahan perdebatan.

Latar belakang pribadinya juga semakin mudah menjadi konsumsi publik.

Namun, menjadi figur publik tidak berarti seluruh aspek kehidupan pribadi otomatis kehilangan batas.

Ada perbedaan antara kepentingan publik dan rasa ingin tahu publik.

Politik Ikut Masuk dalam Perdebatan

Isu Zidane juga tidak dapat dilepaskan dari suasana politik Prancis.

Debat mengenai identitas nasional, imigrasi, Islam, dan sekularisme merupakan topik yang sangat sensitif dalam politik Prancis.

Zidane sering kali ditempatkan sebagai simbol keberhasilan integrasi. Karena itu, ketika agama dan latar belakang keluarganya kembali disorot, isu tersebut dengan mudah keluar dari ranah sepak bola dan masuk ke arena politik.

Namun, menariknya, berbagai spektrum politik dapat melihat Zidane secara berbeda.

Ada yang melihatnya sebagai simbol Prancis multikultural.

Ada yang melihatnya terutama sebagai legenda olahraga.

Ada pula yang menjadikan identitasnya sebagai bahan perdebatan mengenai model integrasi Prancis.

Yang Dibela Bukan Agamanya, Melainkan Haknya

Judul seperti “Pemerintah Prancis Bela Zidane soal Agama” perlu dipahami secara hati-hati.

Bukan berarti pemerintah Prancis secara resmi menyatakan dukungan terhadap agama Zidane.

Sebab, prinsip laïcité justru mengharuskan negara bersikap netral terhadap semua agama.

Yang lebih tepat adalah bahwa prinsip hukum dan demokrasi Prancis memberikan perlindungan terhadap kebebasan hati nurani dan keyakinan.

Dengan begitu, Zidane memiliki hak untuk menjadi Muslim, tidak mempraktikkan agamanya secara terbuka, atau memilih tidak membahas keyakinannya di depan publik.

Negara tidak seharusnya menjadikan keyakinan tersebut sebagai syarat untuk menjalankan profesi.

Prestasi Zidane Sulit Dibantah

Jika pertanyaannya adalah apakah Zidane layak memimpin Prancis dari sisi sepak bola, rekam jejaknya berbicara sangat keras.

Sebagai pemain, ia merupakan salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Les Bleus.

Sebagai pelatih, ia memenangkan tiga Liga Champions secara beruntun bersama Real Madrid, sebuah pencapaian luar biasa.

Karena itu, alasan utama Zidane mendapatkan posisi tersebut jauh lebih mudah dijelaskan melalui prestasinya.

Federasi dan publik sepak bola Prancis melihat pengalaman serta kemampuan manajerialnya sebagai modal untuk memasuki era baru setelah Didier Deschamps.

Tantangan Zidane Kini Jauh Lebih Besar

Terlepas dari kontroversi soal agama, pekerjaan Zidane sebagai pelatih Prancis tidak akan mudah.

Ia harus menangani generasi pemain baru.

Ekspektasi publik sangat tinggi.

Setiap pertandingan akan dibandingkan dengan era Deschamps.

Dan karena Prancis merupakan salah satu kekuatan sepak bola terbesar dunia, targetnya hampir pasti adalah trofi.

Polemik mengenai kehidupan pribadi hanya akan menjadi gangguan tambahan jika tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, tantangan terbesar Zidane sebenarnya bukan menjawab pertanyaan mengenai agama.

Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengubah skuad bertabur bintang menjadi tim yang mampu memenangkan gelar.

Zidane dan Gambaran Prancis Modern

Kisah Zidane memiliki dimensi yang lebih besar dari sepak bola.

Ia lahir di Marseille dari keluarga keturunan Aljazair.

Ia tumbuh sebagai warga Prancis.

Ia menjadi juara dunia bersama Prancis.

Ia kemudian berubah menjadi salah satu ikon budaya Prancis yang paling dikenal di dunia.

Le Monde melihat perjalanan tersebut sebagai contoh identitas berlapis yang tidak selalu harus ditempatkan dalam satu kategori saja.

Dalam konteks itu, Zidane justru menggambarkan kompleksitas masyarakat Prancis modern.

Seseorang dapat memiliki akar keluarga dari negara lain, memiliki keyakinan agama tertentu, sekaligus memiliki rasa memiliki yang kuat terhadap Prancis.

Identitas tersebut tidak selalu harus saling bertentangan.

Polemik Agama Tidak Boleh Menenggelamkan Prestasi

Kembalinya Zinedine Zidane ke Timnas Prancis seharusnya menjadi cerita tentang sepak bola: seorang legenda kembali memimpin negara yang pernah ia bawa menjadi juara dunia.

Namun, pertanyaan mengenai agamanya kembali muncul dan memicu perdebatan.

Dalam negara yang menerapkan laïcité, persoalan tersebut justru memperlihatkan pentingnya memahami perbedaan antara netralitas negara terhadap agama dan kebebasan individu untuk memiliki keyakinan.

Zidane sendiri telah lama memilih untuk tidak menjadikan keyakinannya sebagai konsumsi utama publik.

Maka, pertanyaan yang lebih relevan sekarang bukanlah:

“Apa agama Zidane?”

Melainkan:

“Bisakah Zidane membawa Prancis kembali ke puncak sepak bola dunia?”

Jawabannya hanya bisa ditentukan di lapangan.

Karena ketika pertandingan dimulai, strategi, kepemimpinan, kemampuan mengelola pemain, dan hasil akhir akan jauh lebih menentukan daripada latar belakang pribadi seorang pelatih.

Zinedine Zidane kini memasuki babak baru dalam sejarahnya bersama Les Bleus. Ia datang bukan hanya sebagai mantan juara dunia, tetapi sebagai pelatih yang membawa harapan besar seluruh Prancis. Dan di tengah perdebatan mengenai identitas serta agama, satu hal seharusnya tetap menjadi pusat perhatian: sepak bola.