
JAKARTA – Manchester United akan menjalani pertandingan terakhir pramusim 2026 dengan menghadapi AC Milan di Stadion Wroclaw, Polandia, Sabtu (15/8/2026) malam WIB. Namun, duel ini bukan sekadar laga pemanasan menuju musim baru.
Ada satu sosok yang membuat pertandingan tersebut terasa berbeda: Ruben Amorim.
Pelatih asal Portugal itu kini berada di kubu AC Milan setelah sebelumnya menjadi pelatih Manchester United. Pertemuan kembali dengan mantan pelatih tersebut ternyata justru disambut antusias oleh para pemain Setan Merah.
Mazraoui: Akan Menyenangkan Bertemu Lagi
Bek Manchester United, Noussair Mazraoui, menjadi salah satu pemain yang secara terbuka menyambut reuni dengan Amorim.
Menurut Mazraoui, pertandingan melawan Milan merupakan laga besar menghadapi tim besar. Namun, keberadaan Amorim di kubu lawan membuat duel tersebut memiliki cerita tambahan.
“Kami semua mengenal Ruben, jadi akan menyenangkan untuk bertemu lagi,” ujar Mazraoui seperti dikutip dari situs resmi Manchester United.
Komentar tersebut menunjukkan bahwa meski hubungan profesional antara Amorim dan MU telah berakhir, kenangan selama bekerja bersama masih melekat di benak para pemain.
Amorim Pernah Menjadi Bagian dari Perjalanan MU
Amorim mulai menangani Manchester United pada November 2024. Namun, masa baktinya di Old Trafford berakhir pada Januari 2026.
Kepergiannya kemudian membuka jalan bagi Michael Carrick untuk mengambil alih. Carrick akhirnya mendapatkan posisi permanen dan kini memimpin MU menghadapi musim 2026/2027.
Menariknya, pertemuan MU dan Milan terjadi hanya beberapa bulan setelah Amorim meninggalkan Old Trafford. Situasi tersebut membuat pertandingan pramusim ini terasa seperti sebuah babak baru dari cerita lama.
Kini Amorim datang bukan sebagai orang yang berdiri di pinggir lapangan untuk MU, melainkan sebagai lawan yang harus dikalahkan.
Dari Pelatih Menjadi Lawan
Sepak bola memang sering menghadirkan situasi unik.
Amorim sebelumnya mengetahui karakter banyak pemain MU, termasuk bagaimana mereka berlatih, cara mereka mengambil keputusan di lapangan, serta kekuatan dan kelemahannya.
Kini informasi tersebut berada di sisi lain.
Di kubu Manchester United, para pemain juga memiliki pengalaman menghadapi sistem permainan Amorim. Artinya, pertandingan nanti berpotensi menjadi duel taktik yang menarik.
Siapa yang lebih diuntungkan: Amorim yang mengenal mantan pemainnya, atau para pemain MU yang memahami filosofi mantan pelatihnya?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama pertandingan.
Mazraoui dan MU Fokus Menutup Pramusim dengan Positif
Terlepas dari cerita reuni, MU tetap memiliki pekerjaan penting. Laga melawan Milan menjadi kesempatan terakhir untuk mengukur kesiapan tim sebelum Premier League 2026/2027 dimulai.
Manchester United sebelumnya telah menjalani sejumlah pertandingan pramusim, termasuk melawan Wrexham, Rosenborg, Atletico Madrid, Paris Saint-Germain, dan Leeds United.
Hasil-hasil tersebut memberikan bahan evaluasi bagi Carrick. Setelah perubahan besar yang terjadi di klub, MU membutuhkan persiapan maksimal sebelum memasuki kompetisi resmi.
Carrick juga telah menunjukkan bahwa dirinya ingin mempertahankan performa terbaik para pemain utama. Bruno Fernandes, misalnya, masih menjadi bagian penting dari rencana MU untuk musim baru.
Marcus Rashford Bisa Menjadi Sorotan
Pertandingan ini juga berpotensi menghadirkan cerita lain, terutama terkait Marcus Rashford.
Menurut laporan menjelang pertandingan, Rashford bersama Kobbie Mainoo dan Lisandro Martinez telah kembali berlatih setelah menjalani masa istirahat dan berpeluang tampil melawan Milan.
Jika Rashford benar-benar turun, perhatian tentu akan semakin besar.
Bukan hanya karena statusnya sebagai salah satu pemain penting MU, tetapi juga karena perjalanan Rashford selama era Amorim sempat menjadi sorotan.
Reuni ini bisa menjadi kesempatan bagi Rashford dan pemain lain untuk menunjukkan perkembangan mereka setelah pergantian pelatih.
Bukan Sekadar Laga Pramusim
Meski berstatus pertandingan pramusim, MU vs AC Milan memiliki banyak cerita yang membuatnya layak ditunggu.
Ada Carrick yang sedang membangun era baru Manchester United, ada Amorim yang kini mencoba membangun kembali Milan, dan ada para pemain yang pernah bekerja bersama Amorim tetapi kini harus menghadapinya sebagai lawan.
Situasi tersebut membuat pertandingan ini terasa lebih dari sekadar uji coba.
Bagi MU, kemenangan bisa menjadi suntikan kepercayaan diri sebelum memasuki musim baru.
Bagi Amorim, pertandingan ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan perkembangan AC Milan sekaligus membuktikan bahwa pengalaman pahit di Manchester United telah menjadi pelajaran penting.
Amorim Mengaku Belajar dari Kesalahan di MU
Menariknya, Amorim sebelumnya mengakui bahwa dirinya melakukan banyak kesalahan ketika menangani Manchester United. Kini, ia berjanji membawa pengalaman tersebut untuk menjadi pelatih yang lebih baik di AC Milan.
Pernyataan tersebut membuat pertandingan reuni ini semakin menarik.
Amorim tentu tidak ingin sekadar bernostalgia.
Ia datang dengan misi baru bersama Milan.
Sementara itu, MU juga tidak ingin memberikan ruang bagi mantan pelatihnya untuk mencuri perhatian.
Pertarungan Emosional Sebelum Musim Dimulai
Pertandingan Manchester United melawan AC Milan pada akhirnya menjadi perpaduan antara nostalgia, persahabatan, persaingan, dan ambisi.
Mazraoui dan rekan-rekannya memang antusias bertemu kembali dengan Amorim. Namun begitu pertandingan dimulai, hubungan lama tersebut harus dikesampingkan.
MU membutuhkan kemenangan.
Amorim membutuhkan hasil positif bersama Milan.
Dan para pemain kedua tim memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka telah berkembang sejak terakhir kali bertemu.

































































































