KALIMANTAN TENGAH

Informasi & Berita Seputar Kalimantan Tengah

Berpotensi Banjir Rob, Teluk Sampit Malah Dilanda Karhutla

Wilayah pesisir Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menghadapi situasi lingkungan yang ironis. Di tengah peringatan potensi banjir rob akibat pasang air laut, kawasan ini justru dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan pemerintah daerah karena menunjukkan kompleksitas persoalan lingkungan yang terjadi secara bersamaan.

Banjir rob biasanya menjadi ancaman utama bagi kawasan pesisir Teluk Sampit, terutama saat pasang air laut tinggi yang dipengaruhi fase bulan dan kondisi cuaca ekstrem. Sejumlah permukiman warga di wilayah rendah kerap mengalami genangan air laut yang masuk melalui muara sungai dan drainase. Namun, pada saat yang sama, cuaca panas dan minimnya curah hujan justru memicu munculnya titik-titik api di beberapa area lahan kering dan semak belukar di sekitar teluk.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi ini sebagian besar terpantau di lahan gambut dan area terbuka yang mudah terbakar. Kondisi angin yang cukup kencang turut mempercepat penyebaran api, sehingga menyulitkan upaya pemadaman. Asap tipis mulai menyelimuti beberapa kawasan, menimbulkan gangguan jarak pandang dan kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.

Fenomena ini menjadi sorotan karena Teluk Sampit dikenal sebagai wilayah dengan karakter lahan basah. Namun, perubahan cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan menyebabkan sebagian kawasan menjadi sangat kering dalam waktu singkat. Kombinasi antara potensi banjir rob dan karhutla mencerminkan tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan langkah antisipasi dan penanganan. Untuk menghadapi potensi banjir rob, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan pesisir dan bantaran sungai. Sementara itu, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk memantau dan memadamkan titik-titik api yang muncul di sekitar Teluk Sampit.

Upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana, mengingat akses menuju lokasi kebakaran cukup sulit. Selain itu, petugas juga melakukan patroli rutin untuk mencegah munculnya titik api baru. Pemerintah daerah menegaskan bahwa sebagian besar karhutla disebabkan oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian, sehingga masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Masyarakat setempat mengaku resah dengan kondisi ini. Di satu sisi, mereka bersiap menghadapi kemungkinan banjir rob yang dapat merusak rumah dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, ancaman karhutla menimbulkan ketakutan akan dampak asap dan kerusakan lingkungan jangka panjang. Warga berharap adanya penanganan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan untuk mengatasi dua ancaman tersebut secara bersamaan.

Pengamat lingkungan menilai kejadian ini sebagai sinyal kuat perlunya pengelolaan wilayah pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim. Teluk Sampit menjadi contoh nyata bagaimana satu wilayah bisa menghadapi dua ancaman lingkungan yang bertolak belakang dalam waktu bersamaan. Tanpa perencanaan yang matang dan kesadaran kolektif, risiko bencana akan semakin meningkat.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dinilai sangat penting. Penguatan sistem peringatan dini, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, serta edukasi lingkungan menjadi langkah krusial untuk meminimalkan dampak bencana. Peristiwa banjir rob dan karhutla yang terjadi bersamaan di Teluk Sampit menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam harus dijaga agar masyarakat pesisir dapat hidup aman dan berkelanjutan.